Semangat Perubahan Pemuda

Suryopratomo

PEKAN lalu di Bandung, para pemuda berkumpul untuk menyatakan “Sumpah Pemuda” kedua. Mereka meneguhkan kembali ke-Indonesia-an yang terasa luntur dan perlahan-lahan tergerus oleh perubahan zaman.

Melihat mereka yang hadir kita merasa berbangga hati. Ternyata masih banyak warga bangsa ini yang mencintai negaranya. Mereka menyatakan kegundahannya melihat realitas yang terjadi dan bersepakat untuk membangun sebuah Indonesia yang lebih baik yang mampu menjadi rumah menyenangkan bagi semua penduduknya.

Bukan waktunya untuk hanya sekadar menyalahkan. Lebih baik kita keluar untuk memberikan pikiran yang cerdas agar kita bisa menemukan jalan bagi perbaikan kehidupan seluruh warga di negeri ini.

Tidak harus semua dilakukan dengan langkah yang besar. Langkah kecil seperti bagaimana menyebarkan cara berbahasa Indonesia yang baik dan benar, sudah cukup memberi manfaat untuk menjadikan bangsa ini mempunyai karakter yang kuat.

Ada juga yang mengkampanyekan bagaimana membuat bangsa ini mau mengenal sejarah bangsanya. Dimulai dengan mengenal hal-hal yang mempunyai nilai sejarah dan kemudian ikut merawatnya agar anak cucu kita kelak masih tahu sejarah panjang bangsanya.

Kita memang cukup melakukan dari yang kecil-kecil dan kita mulai saja dari diri sendiri. Yang penting dilakukan dengan konsisten dan dengan semangat untuk menyumbangkan kebaikan kepada perbaikan kehidupan bangsa dan negara ini.

Sumpah Pemuda II yang digagas orang-orang seperti Anies Baswedan penting agar pemuda kembali ke posisinya sebagai gerakan pembaru bangsa. Jangan sampai anak-anak muda ikut larut dan bahkan menjadi pemain utama dalam merusak bangsa dan negara ini.

Kita semua merasa prihatin begitu banyak pemuda yang terjerumus ke dalam tindak korupsi. Padahal ketika melancarkan reformasi di tahun 1998, sempat terlontar keinginan untuk melakukan “potong generasi”. Korupsi yang sudah mengakar dipotong dengan mengganti generasi tua yang sudah ternoda oleh praktik korupsi, kolusi dan nepotisme dengan generasi muda yang masih bersih.

Ternyata semua premis itu terpatahkan ketika anak muda pun terjerumus dalam praktik KKN. Bahkan tindakan yang dilakukan lebih ganas dan tidak lagi mengenal rasa malu. Cara penggunaan uang hasil korupsi pun dihambur-hamburkan secara tidak bertanggung jawab.

Kita mulai melihat itu setidaknya dari apa yang dilakukan pegawai golongan IIIA Direktorat Jenderal Pajak, Gayus Tambunan. Ternyata itu hanya puncak dari sebuah gunung es. Sekarang kita sedang menyaksikan pengungkapan korupsi yang dilakukan kader-kader muda Partai Demokrat.

Semua ini harus menjadi pembelajaran generasi muda. Bahwa apa yang sedang dilakukan kelompok kecil generasi muda tidak bisa ditolelir. Kita harus mengecam gaya hidup kelompok yang hanya mendewakan harta dan tidak memedulikan bagaimana cara mendapatkannya.

Kita pernah mendengar apa yang disampaikan Bapak Bangsa India, Mahatma Gandhi. Kata Gandhi, Bumi ini akan mampu mencukupi kebutuhan manusia yang tinggal di atas, kecuali ada di antara kita yang rakus. Negeri kita pasti akan hancur apabila ada di antara kita yang hanya mementingkan dirinya sendiri.

Begitu banyak warga bangsa ini yang masih hidup dalam kemiskinan. Sementara ada di antara kita yang seenaknya mengambil uang negara dan menghambur-hamburkannya untuk menikmati kemewahan duniawi. Sungguh orang-orang seperti ini tidak punya hati.

Apalagi ketika mereka tidak pernah mau mengakui kenyataan bahwa mereka sudah mengambil uang negara. Dengan tenang tetap saja hidup dalam kemewahan dan seakan-akan tidak pernah melakukan kejahatan apa pun.

Sejak para pemuda menyampaikan sumpah pada tahun 1928, mereka sepakat untuk meninggalkan “kekamian” dan mengubah menjadi “kekitaan”. Jauh sebelum kita merdeka, generasi muda sudah melepaskan sikap eksklusif dan mengubahnya menjadi sikap inklusif.

Sebuah kemunduran yang luar biasa apabila kita, generasi muda, menanggalkan kepedulian kepada bangsa ini. Kita harus mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri sendiri. Tidak bisa kita menari di atas penderitaan bangsa sendiri.

Kita harus berani menghukum siapa pun di antara kita yang tidak konsekuen menjalankan prinsip itu. Jangan sampai prinsip paling dasar dari tanggung jawab kita sebagai warganegara lalu ditanggalkan. Kita harus berani menghukum yang salah agar tidak ada di antara kita yang berani mengkhianati bangsa dan negaranya.

Momentum Sumpah Pemuda II harus kita dengungkan karena ini sesuatu yang positif dalam membangun kehidupan bangsa dan negara. Para pemimpin bangsa seharusnya mengapresiasi inisiatif itu dan mendorong mereka untuk melanjutkannya.

SUMBER : http://metrotvnews.com/read/tajuk/2012/02/17/1046/Semangat-Perubahan-Pemuda/tajuk

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: